Jumat, 31 Mei 2019

Bulan Hilal telah terlihat

Bulan Hilal telah terlihat
Puasa Ramadhan tlah berakhir
Kemenangan bagi yang Taqwa

Pagi gembira
Sholat ied bersama
Riangkan jiwa raga

Saling berma'afan
Bersilaturahmi
Ringankan jiwa kami.

https://youtu.be/WfM9bcX9Do0

Sabtu, 25 Mei 2019

Bukan People Power, tapi ini Preman Power 22 Mei 2019

Empat hari sebelum 22 Mei 2019, saya sudah meramalkan, PEOPLE POWER? Mungkinkah?
Sudah saya ramal, POWER PEOPLE TIDAK MUNGKIN karena secara Ekonomi dan Logistik, Indonesia sedang bagus.
Tidak ada data  dalam sejarah dunia, Ekonomi dan Logistik Negara yg bagus menimbulkan People Power.
Alhamdulillah, ramalan scientific atau forecast saya benar.
Lalu kenapa bisa rusuh?
Ya bisa saja, kalau ada yg mendanai.
Dimana2 kaum preman selalu ada, jobless selalu ada, hopeless selalu ada. Mereka ini yg mudah digerakkan kalau ada yg membayar.
Terbukti, yg ditangkap banyak yg bau alkohol.
Terbukti ada mobil Ambulance yg bergerak mengirim batu, mengirim  team  dokumenter juga ada yang membawa anak panah dan bambu runcing, dan bisa jadi membawa perusuh, terbukti ada video yang membagi bagikan amplop dudekat ambulan.
Musuh pemerintahan Jokowi tidak main2.
Yg pertama, yg menyimpan uang Trilyunan hasil menyamun pemerintah puluhan tahun.
Yang Kedua, orang yg bermimpi khilafah. Padahal jelas khilafah hanya empat kali, seterusnya gagal, Islam pecah menjadi Sunni dan Syiah. Khilafah 4 kali dengan hasil 3 kholifah tewas terbunuh.
Padahal jelas Khilafah bukan bentukan Nabi, itu hasil rembugan para sahabat.
Konsep Khilafah ingin menguasai Negara dan konsep ini dimusuhi pemerintah Islam di manapun.

Saat ini musuh2 Presiden  Jokowi melakukan perang, bener perang. Mereka frustasi, karena berkali2 tidak bisa menguasai Indonesia.
Senjata mereka, bikin hoax, melakukan kerusuhan secara sporadis, menggerakkan emosi muslim dan ngarep rakyat ikut2an.

Tapi Insya Allah, secara ekonomi yg lagi lancar, People Power tidak mungkin, rakyat gak mungkin ikut2an. RAKYAT LAGI ASYIK BEKERJA.
Yg ada saat ini adalah Preman Power, mereka memodali Preman untuk mengacaukan
Indonesia yang super luasdan super kaya.

Tapi rasanya, kerusuhan yang mereka buat tidak berdampak. Rakyat adem ayem, karena logistik terpenuhi dan ekonomi berjalan normal.

Tentu saja, kita berdoa'a dan berikhtiar, Agar upaya perusuh gagal total.
Tapi ada pelajaran yg didapat, Pemerintah harus neniru Arab Saudi, dan Turki. dengan bertindak keras pada siapapun yang terlihat merusak dan membodohi rakyat Indonesia dengan Hoax, Fitnah dan Provokasi.

Doa kedua adalah, semoga 9 yang mulia mendengarkan, menghormati, menghargai  dan meyakini pilihan 85,6 juta rakyat Indonesia, serta pada negara yang telah mengeluarkan Rp 25,59 Trilyun untuk pelaksanaan Pemilu. Pilihan Rakyat terbanyak adalah Pilihan Tuhan.

Untuk para punggawa Negara, tetap  Waspadalahlah, mereka tetap akan mencuri kesempatan membuat onar dimanapun.
Karena, pemilihan Pimpinan Negara dilakukan secara Demokrasi untuk menjaga kerukunan.  bukan dengan cara kekerasan, kerusuhan dan pemberontakan.Tidak usah ragu2 menangkap dan menghukum  perusak Demokrasi, siapapun dia. Perusuh ataupun oemberontak, tidak ada nilainya di alam demokrasi.

Maju Indonesiaku, Jaya Raya Negeriku.

Senin, 13 Mei 2019

Mungkinkah People Power terjadi? Dan seputar Provokasi srputar Pemilu..

Tgl 6 April 2017 Fraksi fraksi di DPR, saya ulangi, Fraksi2 di DPR tepatnya Komisi 2 menetapkan Komisioner KPU dan Bawaslu. Jadi, KPU dan Bawaslu pejabatnya yang menetapkan adalah DPR, bukan Pemerintah. KPU dan Bawaslu tidak dibawah kekuasaan Pemerintah. Komisi 2 adalah perwakilan  Partai2 yang dipilih Rakyat untuk  DPR.

KPU mengadakan Pemilu Pilpres dan Pilleg periode 2019-2024 tgl 17 April 2019 dengan biaya Rp 25,59 Trilyun atau setara dengan membuat Jalan Tol sepanjang 320 Km. Biaya yang sangat mahal dan fantastik  untuk pemilihan Presiden dan Legislatif atau untuk pemilih yg jumlahnya  192 juta, maka biaya per jiwa adalah Rp 135.000,- yang distribusinya melibatkan Masyarakat, Polri dan ABRI melewati jalan, sungai, udara dan laut.
Tapi berapapun besarnya biaya pemilu adalah murah dan sangat murah jika dibandingkan dengan kehancuran  tanpa pemilu. Karena,
Jika tidak ada Pemilu, maka yang terjadi adalah Perang Saudara.

Pemilu sudah terjadi, Pemenang sudah mulai nampak. Pihak yang kalah sudah terlihat MENOLAK HASIL PEMILU yang kelihatannya KALAH, tapi MENGAKUI PEMILU untuk yang hasilnya MENANG.
Jelas, tindakan TIDAK MENGAKUI HASIL PEMILU adalah MAKAR bila mereka TIDAK BISA MENUNJUKKAN ALASAN KUANTITATIF nya. Karena setiap detail penolakan, harus terbuktikan kalau tidak bisa membuktikan berarti PENYEBARAN BERITA BOHONG.

Sekarang diakar rumput mereka berusaha mengajak rakyat untuk People Power. Mungkinkah?
Dari Aspek Logistik, jelas tidak mungkin , karena stock beras menumpuk. Harga perliter beras bulog Rp 7500 sementara beras bebas yang ramai terjual adalah Rp 8.000 dan Rp 8.500  perliter. Telor saya jual Rp 24.000,-  Cabe Rp 25.000 Ayam potong tetap Rp 35rb per kg Daging beku maks 90ribu. Gula Rp 13.000, minyak 10rb per kg. (15 Mei 2016) Usd Rp 14.500,-. saya punya toko eceran yang juga memberi pinjaman tanpa bunga untuk sembako buat langganan sekitar rumah saya.
Harga murah katena stock cukup dan Logistik lancar, ini yang akan membuat Rakyat tidak mudah terprovokasi.

Dari aspek Ekonomi lebih tidak memungkinkan lagi untuk People Power.  Usd seharga Rp 14.500  Inflasi sangat Rendah selama pemerintahan Jokowi. Dan yang patut diacungi jempol, negara tidak dikorupsi atasan dengan tidak adanya skandal2 sekelas BLBI, Century, E KTP, Hambalang dll.

Bung Karno Jatuh karena Usd naik dari Rp 10 keseratus lalu ke seribu dan ke Rp 10.000,- Harga2 menggila, stock logistik tidak teratasi.

Pak Harto Jatuh karena setiap Pelita Usd naik 100 persen dari Rp 240 ke 450 ke 1100 ke Rp 2500 lalu melayang ke 16.000.

Jaman Jokowi, semua terkendali. Rakyat pasti memilih bekerja untuk keluarga daripada Demo, karena harga2 beras , telor,  ayam potong dan harga sembako lainnya terjangkau plus stock tersedia.

Tetapi analisa diatas berlaku untuk kaum yg bisa berpikir, saat ini mereka menyuapi kelompoknya dengan ribuan hoax dan fitnah plus bumbu pe(salah)mahaman Keyakinan. Moga kelompok ini tidak banyak dan JANGAN DIBIARKAN SEMAKIN  BANYAK.

Persatuan dan Kesatuan NKRI bernilai sangat tinggi. Penduduk Asli Indonesia dilarang melakukan PROVOKASI dan PENGHASUTAN apalagi bagi kaum pendatang.

Buat para perusak kesatuan dengan menentang hasil Pemilu, Rakyat sudah memberikan suaranya,  siap2, anda berhadapan dengan Polri dan ABRI mereka Penjaga Kesatuan  Indonesia. Perusak Persatuan Indonesia adalah identik PEMBERONTAK dan saya lebih setuju ditangani Densus 88 dengan senjata lengkap.

Dan Agar perusakan dan degradasi mental tidak terus terjadi pada bangsa ini, KPU wajib menangkal, mem blacklist dan mendiskualifikasi siapapun peserta pemilu, yg kemudian menolaknya, tapi tidak bisa membuktikan dasar penolaka nya., Juga pada siapapun yg telah merusak bangsa dengan hasutan dan provokasi.

Kami, Rakyat tetap bekerja untuk mencapai Indonesia yang makmur.

Amiiin ya Rob.
Merdeka.